“[A]lthough switch costs may be relatively small, sometimes just a few tenths of a second per switch, they can add up to large amounts when people switch repeatedly back and forth between tasks. Thus, multitasking may seem efficient on the surface but may actually take more time in the end and involve more error. Meyer has said that even brief mental blocks created by shifting between tasks can cost as much as 40 percent of someone’s productive time.”

multitasking-quote

Mengutip American Psychological Association (APA), multitasking membutuhkan 40 persen dari waktu produktif kita.

Apa sih maksudnya kok malah kita rugi 40% waktu dengan multitask?

Memang pada awalnya kita merasa lebih produktif dimana bisa menyelesaikan banyak tugas dalam satu waktu. Meskipun hanya memakan waktu per sekian detik antara perpindahan tugas tersebut, lama kelamaan akan menjadi jumlah yang besar jika kita melakukan hal tersebut secara berulang-ulang.

Penulis sendiri yakin dengan simpulan di atas. Ya, sebuah kenyataan yang penulis yakini bahwa semua kita pernah mengalaminya. We learned it the hard ways though.

Pernahkah sobat mendapatkan hari dimana tidak ada satupun pekerjaan yang bisa selesai dalam waktu jam kerja normal?

multitasking = less productive
Multitasking = less productive

Pernahkah sobat ketika sedang melakukan satu tugas yang mari kita sepakati bersama disini: review kenapa AADC2 bisa bersaing penjualan tiketnya terhadap Captain America Civil War, tiba-tiba teralih perhatiannya untuk:

  • Membaca pesan karena ada suara notifikasi di smartphone?
  • Browsing internet karena teringat sesuatu?
  • Membalas telepon?
  • Merespon bos yang mendadak datang ke meja sobat terus memberikan tugas yang dalam mimpi-pun sobat sekalian tidak pernah alami di malam harinya?
weapons of mass distraction
Weapons of Mass Distraction

Sekembalinya ke tugas yang ga penting banget tadi, ermm karena salah contoh yak, sobat bingung untuk melanjutkan bagian yang sempat terhenti akibat interupsi tadi. Apa yang akan sobat lakukan? Menurut teori karangan penulis sendiri, ada dua jenis tindakan yang akan diambil sobat (tergantung kepribadiannya bukan kegantengannya):

  1. sobat akan melakukan multitasking, melanjutkan sejauh yang bisa diingat sambil terus membalas WA, mengirim email, berselancar di internet.
  2. sobat give-up dan memutuskan untuk mengerjakan tugas yang baru saja diberikan bos tadi–bahkan dalam tugas baru tersebut beberapa dari sobat sekalian masih saja konsisten sambil-sambilan berinteraksi di sosial media (ngaku aja deh).
  3. sobat tidak peduli dengan segala gangguan tsb dan tetap lanjut mengerjakan tugas pertama tadi sampe tuntas. Fokus!

Nah, bisa dilihat betapa tidak fokusnya penulis yang ternyata nulis tiga padahal tadi awalnya kepikiran dua. Pelajarannya adalah lebihkan itu baik daripada ngepas-ngepasin. Loh, ini kok jadi ngambang pembicaraannya?

Skip, skip. Back to our pembicaraan soal multitasking.

Itulah multitasking, sebuah jenis makanan yang sangat digemari oleh kebanyakan sobat sekalian. Ibarat permen Nano-Nano yang bisa memberikan multi rasa. Ngaco lagi!

Okey, kali ini for real kita lanjut. Anggap yang lewat tadi adalah intermezzo.

Itu adalah tanda antara anda tidak kompeten atau anda tidak bagus dalam mengatur waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada. Bisa jadi anda telah terjebak dengan mitos kemampuan multitasking.

Telah dilakukan penelitian yang memberikan data bahwa hanya 2% dari populasi dunia yang benar-benar berbakat multitasking, dan ironisnya orang-orang yang langka tersebut jarang melakukan multitasking dalam bekerja. Dengan kata lain, penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mengerjakan banyak hal dalam waktu yang sama adalah orang yang buruk dalam melakukannya.

Stop dari sekarang dan jangan berasumsi bahwa sobat adalah bagian dari 2% yang bisa melakukan multitasking!

Pede boleh aja tapi jangan keterlaluan kayak gini dunk!

Fokuslah mengerjakan satu hal dalam satu waktu! Trust me, it works! (Bukan susu Elemen ya).

Yoda's Wisdom
Listen to the wise Yoda

Terus kenapa orang bisa terjebak dengan multitask?

Kesalahan yang umum terjadi bagi orang yang “merasa-pintar” multitasking adalah dapat dilihat dari empat sifat berikut:

1 – Anda adalah tipe pekerja yang berorientasi pendekatan atau fokus terhadap hadiah. Anda mempertimbangkan kemungkinan mendapatkan keuntungan dari multitasking dan tertarik dengan potensi hadiah yang bisa diperoleh darinya. Selesai satu dapat seribu lima atus, selesai dua tiga ribu, klo gitu selesai 10 dapat dua puluh ribu dunk horee! (bodoh! lima ribunya dapat darimana coba?)

Greed dies
Greed dies

2- Anda adalah pencari sensasi tingkat tinggi. Anda membutuhkan stimulasi yang konstan, dan senang akan hal baru, senang akan pujian dengan kemampuan pindah ke tugas baru sambil mengerjakan yang lama (hidung manjang trus tumbuh sayap di punggung karena dipuji teman gini “wuihh anjirr hebat luh bisa belajar Kalkulus 3 sambil maen DoTA”–kenyataannya: maen game-nya berhasil, ujiannya dapat C).

Attention whore
 Attention whore

3 – Anda yakin bahwa anda adalah bagian dari 2% tadi. Mereka yang percaya akan hal ini akan lebih cendrung melakukannya dibanding orang yang hanya merasa tidak begitu hebat dalam multitasking. Tidak dapat dipungkiri bahwa, perasaan kita biasanya meleset dari kenyataannya. (masih ingat kasus ke-Ge-Er-an sama cewe kan bro? Nah cukupkan disitu aja guys..and you too girls!)

Over pede
Over pede wont help

4 -Anda mengalami masalah untuk fokus. Sobat mudah diganggu atau tidak bisa untuk tidak menanggapi stimuli dari luar (misal : ada tamu dadakan apalagi bos, notifikasi email/hape, dll). Kalau sampe begini anda sudah dinyatakan masuk dalam stadium empat. Situasi dimana sobat sudah nyaris tidak bisa diselamatkan lagi. Nyaris! (bukan Yaris mobil saya ya).

Distraction = not focus
Distraction = not focus

Tidak usah putus asa sobat jika anda sekalian terjatuh dalam salah satu dari kategori di atas. Tenang. Penulis juga dalam kondisi yang sama. Percayalah bahwa kita bisa sembuh dari penyakit ini ehh maksudnya meninggalkan kebiasaan multitasking tersebut –adalah sebuah kemenangan jika kita bisa peroleh kembali 20% dari waktu yang sempat hilang. Kemenangan yang akan sangat manis bagi yang pasangan yg rujuk lagi abis bertengkar karena ketauan sama cewe-nya di-“multitasking”-kan.

Jadi, obatnya apa? –pun intended

Don't stress, it is cureable
Don’t stress, it is cureable

Tidak ada obatnya. Ya tidak ada! Cobalah pergi ke apotek terdekat. Niscaya sobat akan disuruh mencari psikiater terdekat (ya dan saya butuh satu).

Perlu diingat bahwa multitasking bukanlah penyakit yang tidak bisa disembuhkan, seperti ngutang tapi lupa bayar (eh). Seperti epilepsi, multitasking dapat disembuhkan secara total. TOTAL!

Hal pertama yang harus sobat ingat adalah bayar dulu hutang yang pernah ada dan berbaik-baikanlah dengan sesama manusia sambil terus meningkatkan kualitas ibadah ke Tuhan.

Selesai yang tiga itu baru kita lanjut dengan pikiran bahwa tidak semudah itu untuk sama sekali melenyapkan kebiasaan multitasking. Yang terbaik yang bisa sobat lakukan adalah lakukan pembatasan secara bertahap di bagian kehidupan.

Sebagai permulaan, buatlah ruang atau suasana yang tidak sulit untuk melakukan multitasking. Ini mengutip lagi dari postingan orang lain, ada dua strategi yang bisa dicoba:

  • Kenali dan bagi tugas-tugas yang kompleks

Temukan mana tugas-tugas rutin yang rumit, dan kemudian sediakan ruang dan waktu “tanpa-gangguan” (kunci pintu ruangan kerjamu, hape dalam mode silent, pake kacamata kuda). Untuk hal-hal yang baru juga berlaku demikian.

Menurut APA, semakin rumit atau tidak terbiasa dengan suatu tugas, maka semakin banyak waktu yang akan bisa hilang saat melakukan perpindahan di antara tugas-tugas tadi. Selamatkan dirimu sobat! Sebelum kelelahan karena otak terbakar, fokuslah seperti laser dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut secara satu per satu.

Jangan mimpi sobat bisa menghajar banyak tugas dalam satu kecuali, yakin bahwa anda adalah titisan Sun Wukong atau menguasai jurus Kagebunshin No-Jutsu nya Naruto atau memiliki mata Rasengan dan Shinra Tensei nya Pein. Sudahlah segera sadar bahwa sobat itu hanya manusia biasa dan bukan yang 2% tadi.

Shinra Tensei! You multitasks!
Shinra Tensei! YOU multitasks!
  •  Aturlah multitasking untuk tugas-tugas yang sudah umum

Ketika sobat berada pada situasi yang menyulitkan untuk menghindari multitasking, fokuslah pada tugas-tugas yang sifatnya berulangan atau sudah umum kita kerjakan selama ini. Ini akan membantu untuk menekan kerugian akibat multitasking, sambil juga perlahan meninggalkan kecendrungan untuk melakukannya.

Satu hal lagi yang bisa dilakukan adalah menyediakan ruang/waktu khusus yang membolehkan multitasking (jika ada termasuk satu dari empat sifat di atas). Sobat akan mengalami hari-hari yang KERAS bin SULIT untuk mencabut akar kebiasaan multitasking untuk diganti dengan tanaman baru yang namanya FOKUS, jadi sesekali memperbolehkannya terkadang dapat membantu untuk lebih mudah (semoga cepat sembuh ya).

Be strong there Luke. Keep it up!
Be strong there Luke. Keep it up!

Jadi, kapan saya bisa sembuh dok?

Kenali situasi dimana multitasking dapat sangat merugikan sobat:

  • Apakah anda sangat fokus mengharapkan pujian “berhasil menyelesaikan banyak hal”?
  • Apakah setiap bunyi DING atau notifikasi di gadget menarik perhatian seketika di waktu itu?
  • Apakah kamu khawatir kehilangan eksistensi diri, ketinggalan cerita karena tidak update status satu hari saja di Facebook, Path, Twitter? Tidak broadcast ke BBM, WA, Line, Telegram, We Chat, Kakao Talk, dan sejenisnya?

Apapun yang memicu sobat, kenalilah dan lakukan pencegahan agar tidak tergoda untuk menanggapinya. Monster multitasking adalah ibarat Black Dragon-nya di Heroes of Might and Magic, anti magic up to fifth level! Pahami dan kenali monster ini dan cari apa kelemahannya. Hanya kekuatan dalam diri sobatlah yang bisa mengalahkannya.

May the force be with you Luke…

Pendapat Pribadi (bisa jadi ngaco, jadi so waspadalah!)

1-Keep safety in mind first : Multitasking itu berbahaya! Coba deh nyetir mobil sambil nge-flash custom ROM di hape android dijamin bisa kecelakaan. (yeahh it happened to me once, yess it’s me–ehh curcol)

Multitask = unsafe act
Multitask = unsafe act

2- Your choice whether to be disturbed and got stabbed by backstabber (damn you assassin thieve! ups) or to be stayed focus like a Palladin with strong will and heart. Siapa bilang multitasking tidak bisa dihindari? Coba Terapkan teknik Pomodoro dimana sobat acuhkan gangguan yang datang sampe waktu fokus di tugas yang sedang dikerjakan selesai. (tapi saya dak jamin klo anda dikasi nilai jelek sama bos atau malah dipecat karena tidak segera merespon perintah dadakan so DIWYOR wkwkw).

Fokus!
Belajarlah untuk fokus sobat!

 

Semoga tulisan ini dapat membantu sobat sekalian terutama saya sebagai penulis sendiri untuk menjadi lebih produktif tanpa terjebak mitos atau monster yang bernama multitasking.

Selaku seorang muslim yang punya kewajiban untuk berdakwah ijinkan penulis mengutip Al-Quran Surat 13 Ar-Ra’d ayat 11:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءاً فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

Gangguan yang kita hadapi dalam beraktivitas bisa datang dari luar bahkan dari dalam diri sendiri. Hanya kita sendirilah yang bisa mengubah. You are the one who hold the sword doesnt meant that your King’s order taking responsibility on how you decide to use it. Pada akhirnya, kita-lah yang menentukan apa yang terjadi pada orang lain dan diri kita sendiri.

Maaf jika ada yang terkesan copas dan membosankan karena terjemahannya kurang tepat tapi penulis berusaha untuk menyampaikan ulang dengan bahasa sendiri yang lebih ringan.

Penulis berusaha menterjemahkan atas request rekan kerja yang protes pas sharing link berbahasa kampungan (ya English itu kampungan, aku cinta bahasa Indonesia!) At least, I’m trying not to be so serious in writing like in following sources LoL 😀

http://ilhamfonna.blogspot.co.id/2012/02/allah-tidak-akan-merubah-nasib-suatu.html

The High Cost of Multitasking: 40% of Productivity Lost by Task Switching

Addicted to Multitasking: The Scientific Reasons You Can’t Stop Juggling Work

 

Advertisements