They think the problem is “out there” – but that thought is the problem.

Setiap orang pasti tidak jarang menjumpai yang namanya penilaian dari orang lain baik itu dalam bentuk kritik ataupun saran. Cara penyampaian tiap pemberi masukan dan penangkapan atau penafsiran tiap penerimanya tidaklah sama.

Kebanyakan orang tidak suka kritikan. Apalagi disampaikan dengan cara dan bahasa yang tidak mengenakkan. Di sisi lain, banyak orang senang jika diberikan masukan dalam bentuk saran dan lebih lagi saat disampaikan dengan bahasa yang positif.

“Saya g masalah dikritik.”

“Kita menerima kritikan tapi liat dulu siapa yang mengkritik..”

Begitu banyak ragam tanggapan penerima kritik mulai dari yang frontal menyatakan tidak suka hingga yang halus menyatakan tidak masalah.

Benarkah ada orang yang betul-betul menerima kritik?

Bohong!

Tidak ada manusia yang suka dikritik!

Setiap individu secara otomatis memiliki sebuah pertahanan diri dari serangan luar. Terutama jika suatu kritikan menyerang pribadi yang bersangkutan atau entitas yang dia banggakan selama ini.

Akuilah. Ya, saya tidak suka dikritik. Pada awalnya memang tidak suka. Namun yang perlu dilihat lagi adalah apa yang dilakukan setelah mendapatkan kritikan tersebut?

Apakah anda justru menyerang balik? Hal yang lumrah jika Anda melakukannya. Orang yang mengkritik Anda juga akan melakukan hal yang serupa jika dibalas dengan kritikan sejenis.

Menurut Stephen Covey Jr. dalam bukunya yang berjudul “7 Habits of Highly Effective People”, di habit yang pertama membahas fenomena individu yang reaktif.

Mereka yang reaktif adalah tipe yang merasa tidak ada masalah dengan dirinya melainkan justru orang lain atau luar tersebutlah yang bermasalah.

Ngaca dulu, bullshit, mereka juga ga benar, dan pembelaan-pembelaan lainnya yang justru menunjukkan kereaktifan mereka menghadapi sebuah kritikan dari luar.

Dari pembahasan habit yang pertama yaitu Be Proactive, dijelaskan disitu bahwa tiap individu memiliki dua lingkaran yang disebut dengan Circle of Concern dan Circle of Influence. Lingkaran perhatian adalah indikasi seberapa luas kita concern akan sesuatu yang bahkan beberapa darinya tidaklah bisa kita berbuat banyak akan hal tersebut sementara lingkaran pengaruh menunjukkan seberapa besar kita dapat memberikan pengaruh positif ke luar diri.

Orang proaktif memahami bahwa mereka memiliki response-ability. Sebuah kemampuan untuk dapat memilih respon dari sebuah stimuli yaitu dalam bahasan kali ini sebuah kritikan.

Screenshot_20160601-220103

Orang reaktif terlalu fokus pada hal-hal yang berada di dalam Lingkaran Perhatian mereka bukan di Lingkaran Pengaruh. Sikap inilah yang mengarah kepada menyalahkan faktor eksternal dengan memancarkan energi negatif yang malah memperkecil Lingkaran Pengaruh mereka.

Jadi bagaimana caranya agar kita tidak mudah reaktif dan bergeser ke karakter diri yang lebih baik yaitu proaktif?

Opa Stephen Covey Jr menjelaskan lagi bahwa kita harus fokus ke lingkaran pengaruh yang berada di dalam lingkaran perhatian. Kita harus tentukan untuk mengerjakan hal-hal yang kita dapat membawa perubahan atau yang kita bisa kendalikan. Bukan malah bertahan dan balik menyerang sehingga tidak memperbaiki diri atau mengerjakan hal yang sebenarnya bisa kita lakukan agar lebih baik.

Ketika kita diserang kritikan yang harus dilakukan adalah mencoba untuk melihat apakah yang disampaikan tersebut bisa kita tunjukkan kepada para kritikus bahwa apa yang mereka tuduhkan tidaklah seburuk itu.

Bagaimana cara membalasnya atau menanggapinya?

Sederhana aja. Tidak perlu capek buang emosi dengan sikap yang reaktif. Be proactive! Coba pilih respon terbaik dan lakukan perubahan sehingga para kritikus tadi tidak nyindir kita lagi.

Come on! The show must go on!

Jelek atau tidak kitalah yang bisa menentukan akhir dari pertunjukkan. Buat mereka bertepuk tangan di akhir pentas.

Apakah iya kita menerima begitu saja padahal mereka yang kritikus itu juga tidak kalah buruknya dari kita?

Disinilah letak filosofi habit pertama yaitu jadilah proaktif. Ketika anda diserang dan justru dengan arif menanggapinya maka mereka pun pada akhirnya akan termasuk ke lingkaran pengaruh kita yang positif. Pada akhirnya mereka akan ikut berubah menjadi lebih baik mengikuti habit yang kita contohkan.

Jadi apa yang harus kita lakukan agar berubah dari reaktif menjadi proaktif?

Saya mengakui bahwa saya reaktif dan masih jauh dari proaktif. Berat memang untuk merubah suatu kebiasaan terlebih itu adalah bawaan lahir dan hasil pergaulan serta didikan selama ini. Ya! Kita dibesarkan dengan cara yang berbeda tapi rata-rata setiap diri memiliki derajat kereaktifan.

Beratnya merubah kebiasaan bisa kita contohkan dari merubah menulis dengan tangan utama menjadi tangan yang jarang digunakan. Bagi anda yang kidal tentu akan kacau kalau disuruh menulis tidak dengan tangan kiri lagi. Begitu juga dengan yang selalu menggunakan tangan kanan. Lah ada kok orang yang bisa nulis dua tangan. Iya benar bro and sista tapi orang yang ambidextrous tersebut cuman 2% dari jumlah penduduk dunia ini (coba simak tulisan ane perihal multitasking). Yup. Saya sudah pernah menyaksikannya sendiri. Baru satu yang saya kenali selama 32 tahun umur ini.

Screenshot_20160601-222410.png

Kembali ke usaha menjadi proaktif. Untuk menjadi proaktif anda bisa melakukannya dimulai dari hal yang paling sederhana yaitu:

1. Cobalah untuk mengerti eh untuk menerapkan pemilihan kata yang positif dari sekarang (saya juga masih belajar). Contoh:

Reaktif : “Apa? Gw g bisa kerja? Dia nya aj belum tentu benar”

Proaktif : “Oh gitu ya. Hmm memang ada benarnya juga dan saya harus perbaiki nih.”

2. Ubahlah tugas yang reaktif menjadi proaktif. Contoh:

Reaktif : Harusnya itu tugas si A bukan saya. Biar aja lah klo dia g kesini kan bola di dia. Nanti klo telat bilang aja dia g follow up kok.

Proaktif : emang sih ini bukan tugas ane tapi klo ga diingatkan si A itu lupa deh.

Jadi orang proaktif tidak larut dalam emosinya hingga terseret dikendalikan oleh reaktivitasnya dan punya etos kerja “menjemput bola”.

Kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi?

Bukankah Rasulullah telah mengajarkan bagaimana kita mengajak orang ke kebaikan? Berikan contoh itu lebih baik daripada hanya membela diri dan menyalahkan orang lain. Jika mereka jelek dan menyindir keburukan kita maka tindakan yang paling bijak adalah contohkan kepada mereka bahwa saya tidaklah sejelek yang anda tuduhkan.

Terus mengapa masih juga orang tidak bisa menerima kritikan?

Jawaban tidak lain adalah ego, gengsi, dan harga diri.

Pilihan ada di diri masing-masing.

Be reactive and destroy yourself or be proactive and share the positive enegy for a better world.

 

Sources:

http://www.hubspot.com/sales/habits-of-highly-effective-people-summary

Plus my own personal understanding on the first habit (punya bukunya saya dan pernah dapatkan trainingnya).

Posting an ini murni diketik dari hape dengan segala keterbatasan dan salah penulisannya serta beberapa gambar yang tidak dipotong dengan rapi. Nanti tak rapikan deh boss 😀

 

Advertisements